Cerpen Alfarizi Andrianaldi: Waduh! Salah Jalan!
Alfarizi Andrianaldi
Masih pagi. Mataku masih terkantuk-kantuk, sebab semalaman suntuk mengurus perayaan kebudayan yang sudah berkali-kali diadakan di beberapa bulan ini. Sumpah! Aku bukannya benci dengan kebudayaan ini, tetapi ketika sudah sering dilakukan, muak mengguncang perutku. hingga hingar-bingar euphoria masyarakat yang sebegitunya. Aku awalnya tak percaya, tetapi ini menurutku juga sesuatu yang baik bagi kebudayaan yang disanjung-sanjung, menjadi daya jual provinsi yang sumber alamnya minyak urut ini dan menjadi upaya bagi para petinggi untuk meletakkan namanya bertengger di spanduk-spanduk ketika perayaan ini berlangsung.
Tunggu sekejap, aku mau membasuh mukaku yang tampan ini, lebih tampan dari duta kebudayaan yang tadi menyuruhku untuk mengipasi dirinya yang kepanasan di tengah-tengah kerumunan masyarakat yang tiba menyaksikan perayaan itu. Sabar ya! Sebenarnya aku yang begitu tidak sabarnya untuk menceritakan peristiwa ini pada kalian. Oh ya! Aku tak akan berkata kasar pada catatan ini. Sungguh harum aroma nasi goreng yang ibu masak, cacing di perutku menggeliat, mengerang-erang supaya segera diberikan sarapan. Hal sederhana ini setidaknya membuatku tersenyum dan melupakan sejenak perihal duta kebudayaan yang telah membuatku kesal hingga sekarang.
Aku duduk, menyaksikan ibu sedang menghidangkan sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat di depanku. Teh hangat membantu menghangatkan cuaca pagi ini yang hujan sedari semalam. Namun, kehangatan ini membuatku teringat dengan dia. Rindu? Ini adalah respon pertama yang akan terbaca olehku jika catatan ini dimuat dan seseorang memberikan komentarnya. Aku tidak berharap juga. Toh, ketika kuberharap, malah selalu ditinggalkan. Muka mamiku tercinta berkerut pula melihatku. Betul saja, ia menanyakan apa yang sedang aku pikirkan? Apakah aku berpisah dengan seorang wanita yang sudah berbulan-bulan ini tak kunjung menerimaku itu? Sungguh tak berdaya aku ketika dia melontarkan pertanyaan prasangka itu padaku.
Aku mencoba untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya. Ah! Ini membuatku tidak berselera untuk makan. Selayaknya seorang anak ketika merajuk, aku memanyunkan bibir dan melipat tangan di dada sampai dia mencoba untuk membujukku. Namun nyatanya, setelah hampir setengah jam aku begini, dia sama sekali tidak membujukku. Semua yang berada di meja makan sudah pergi, kereta ternyata mengangkut mereka ke stasiun selanjutnya. Mulutku juga sudah lelah, tapi aku merasa seksi. Ah! kembali aku berkata “Ah!” sebab aku terngiang-ngiang pertanyaan yang dilontarkan duta kebudaayaan kalera itu kepada rekannya, “Bibir aku seksi nggak?”
Jujur! Pada saat itu tanganku sudah terkepal, ingin rasanya kuangkat ke atas sampai berteriak mengucapkan kalimat takbir “Allahuakbar!” dan membaiatkan diri untuk berjihad di jalan Allah SWT. Tetapi, seketika seorang wanita memanggilku dengan suaranya yang lembut dan dia berada tepat di sampingku. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Dia bertanya, apa yang sedang aku lakukan?
Aku berdalih di tengah dukun memindahkan awan gelap, kebetulan pada saat itu langit mendung dan angin menerbangkan sampah-sampah pengunjung perayaan kebudaayan yang sedang berlangsung. Dia membeku sejenak, dia tidak bergerak beberapa menit. Kebiasaan inilah yang membuatku jatuh cinta padanya. Ia sangat-sangat bingung, sejak kapan aku bisa mengendalikan hujan? Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutnya setelah penantian singkatku. “Sejak dirimu tiba-tiba di sampingku.” Aduh! Aku salah langkah kawan-kawan. Setelah mendengarkan pernyataanku itu, dia jadi merajuk dan pergi meninggalkanku. Ya sudahlah, palingan nanti dia kembali lagi, kembali lagi manja dan mengelus-elus selangkanganku hingga seorang prajurit berdiri dari tidurnya dan diperintahkan untuk mencari seseorang anak yang ditemukan berkeliaran tak berinduk di depan radio pemerintah provinsi R.
Alex Kaliang! Alex Kaliang! Aku sudah tidak sabar memperkenalkan bentukmu kepada mereka yang membaca catatan ini. Aku juga tidak sabar lagi untuk menceritakan peristiwa yang terjadi padaku yang bersangkut paut dengan dirimu! Sudah menggigil tubuh ini, menggeram sekaligus jijik membayangkan muka berbedakmu dan lipstick merahmu itu. Iya, aku tidak sedang bergurau kawan-kawan. Betul, dia berbedak tebal dan berlipstick merah di bibirnya. Ah! Maaf! Warna kulitnya yang gelap itu sontak tampak kontras terlihat oleh penglihatan manusia normal. Aku teringat lagi dengan kalimat “Bibir aku seksi nggak?” yang diucapkan dari mulutnya yang bau itu.
***
Hari kesekian dan tanggal kesekian di tahun kesekian gagalnya kiamat terjadi merupakan hari di mana perayaan kebudaayan ini dimulai. Umbul-umbul beraneka warna dan bentuk tertancap tak karuan di sepanjang lokasi perayaan, tak lupa pula baliho-baliho ucapan selamat atas berlangsungnya perayaan ini oleh pejabat-pejabat provinsi R. Hari ini sangat ramai, banyak tingkah laku yang tak dapat aku saksikan sebab sibuk mengurusi kebudayaan yang amat membosankan ini. Tetapi apakah makna ‘bosan’ ini sejatinya adalah membenci?
Sungguh aku tidak membenci! Sungguh! Toh, sekarang aku mau-mau saja menjadi panitia perayaan kebudayaan ini walau nantinya honor tak sesuai dengan apa yang dijanjikan di awal perjanjian. Dengan begini, aku bisa bertahan hidup sebab buku-buku puisi yang kutulis tak kunjung laku, entah kenapa aku mencetaknya begitu banyak dahulu. Eh! Tapi bukan sepenuhnya salahku, dewan kesenian daerah provinsi R memaksaku untuk mencetak beratus-ratus eksemplar buku itu. Mereka meyakinkanku dan berjanji kalau buku puisiku tersebut akan laku beberapa bulan saja. Tapi itu hanya perkataan semata, para dewan kesenian itu rata-rata seorang sastrawan, mereka pandai merangkai kalimat-kalimat manis.
Kini buku-buku itu masih menumpuk di lorong gedung dewan kesenian daerah provinsi R. Yang pastinya berdebu dan beberapa sudah tergigit tikus. Sudah hampir dua tahun ini dewan kesenian daerah provinsi R mati suri. Aku tidak tahu kemana perginya para petinggi dan bawahan yang mengurus dewan kesenian itu. Aku juga tidak peduli. Tapi kuharap mereka kembali, apalagi di momen-momen seperti perayaan kebudayaan ini.
Melihat kondisi sekarang, aku juga menyesal telah menyia-nyiakan perkuliahanku dahulu. Kuliah Sastra Indonesia yang menjengkelkan itu. Dosen-dosen yang bacaannya hanya seberapa itu, yang tua bangka, yang tak mengerti kesusastraan Indonesia saat ini. Mereka yang telah membuatku berhenti. Aku tidak tak sanggup berpura-pura tidak tahu di depan mereka, aku juga tidak sanggup menerima tawaran-tawaran penelitian untuk kepentingan pribadi mereka.
***
Keributan-keributan di luar bertambah-tambah. Di gedung kepanitian ini, Aku berusaha untuk menenangkan Alex Kaliang yang tetiba mengamuk sebab salah satu temanku tidak mengiyakan permintaannya. Siapa juga yang akan mengiyakan perkataan Alex Kaliang itu? Ia meminta temanku untuk memijit pundaknya yang berselempang dengan bertuliskan ‘duta kebudayaan provinsi R tahun kesekian’. Ia memberontak saat kucoba untuk menenangkannya.
Sekedar info, Alex Kaliang adalah anak tunggal dari kepala dinas kebudayaan provinsi R. Aku bisa saja bercarut di depan mukanya yang berbedak tebal dan berlipstik merah itu. Tapi kutakut saja ketika hal itu terjadi, aku dipecat dari pekerjaanku ini. Aku mencoba selunak-lunaknya berkata ketika menenangkan dia. “Sudahlah! Apa yang sebenarnya terjadi?” Dengan wajahnya yang diimut-imutkan itu dia mengadu padaku perihal kawanku yang tidak menuruti perintahnya untuk memijit pundaknya yang menanggung beratnya kebudayan-kebudayaan provinsi R.
Aku berusaha untuk meresponnya dengan sangat baik. Aku tidak pernah terlihat ramah seperti ini kepada orang yang kubenci. “Kamu capek?” Aku salah bertanya bung, dia tampak malu-malu ketika kutanya begitu. Alex Kaliang berlarian mengelilingi gedung kepanitian. Aku rasa dia baper dengan ucapan itu. Aku sungguh takut setelah itu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dia tidak kunjung berhenti mengelilingi gedung kepanitian. Sampai pada akhirnya, seorang staf dinas kebudayaan memanggilnya untuk segera kembali ke lokasi perayaan kebudayaan provinsi R.
Namun, dia masih saja berlarian mengelilingi gedung kepanitiaan. Wajahnya yang sudah berkeringat dan bedaknya luntur menyisakan gelap pekat kulitnya itu masih menyiratkan kebahagiaan sebab ulahku, sebab “Kamu Capek?” yang aku ucapkan. Berkali-kali staf dinas kebudayaan provinsi R itu memintanya untuk segera kembali ke lokasi perayaan provinsi R. Berkali-kali. Sudah hampir setengah jam staf dinas kebudayaan provinsi R itu berdiri tegak menyaksikan Alex Kaliang memutari gedung kepanitian. Entah apa sebabnya, tetiba saja dia merajuk.
Alex kaliang akhirnya berhenti dari larian salah tingkahnya. Kini ia kembali ke lokasi perayaan dengan wajahnya yang sudah tak berbedak lagi. Saat ia meninggalkan gedung kepanitian, sempat-sempatnya dia melambaikan tangannya padaku dan mengedipkan matanya yang besar minta ampun itu padaku. “Bibirku seksi nggak?” terdengar sayup suara Alex Kaliang bertanya kepada kawannya tadi. Aku benar-benar merasakan kehinaan yang mendalam. Aku sontak langsung mengguling-gulingkan tubuhku ini di atas pasir yang menggunung di depan gedung kepanitian. Aku sangat-sangat berharap najis yang melekat di tubuhku ini lenyap selamanya dan aku kembali suci dan aku bisa melaksanakan ibadahku kembali. Kemudian Kawanku juga menyarankan untuk melakukan mandi taubat sepulang dari sini.
Aku bertanya kepada kawanku ini, “Dia duta kebudayaan provinsi R yang sekarang?” Sontak kawanku dengan kebiasaanya yang menggebu-gebu ketika berbicara melemah tidak berdaya. Ia membenarkan pertanyaanku ini. Aku sangat bingung sekali fungsi dari duta kebudayaan itu apa dan ini berulang-ulang kali kutanyakan padanya. Ia pun tak dapat menjawab pertanyaanku itu dan mengutuk-mengutuk Alex Kaliang agar segera cepat meninggalkan bumi ini. Aku langsung tergelak sejadi-jadinya ketika kawanku ini mendoakan Alex Kaliang untuk mati saja.
***
“Duta kebudayaan hanya untuk menambah-nambah sampah di sekitaran lokasi perayaan yang sedang kita urus ini, Bung!” Sungguh tak kusangka jawaban itu keluar dari mulutnya. Tapi betul saja, aku merasakan tidak ada gunanya juga. Aku tidak bodoh, aku belajar masalah kebudayaan ini di kampusku dulu. Kawanku ini mengaku sempat berdiskusi perihal kebudayaan lainnya dari provinsi R dengan Alex Kaliang. Tetapi hasilnya nihil, Alex Kaliang tidak mengetahui kebudaayaan yang disebutkan oleh kawanku. Aku terkejut dengan pernyataan kawanku ini. Lalu, apa yang dia ketahui? Bagaimana bisa dia terpilih menjadi duta kebudayaan kalau begitu? Sambil menggaruk-garuk burungnya yang gatal, kawanku yang tidak setampanku ini menjawab “Ya, karena dia pandai bersolek, kawan-kawannya yang banyak, dan kau tahu sendiri juga, bapaknya sendiri merupakan atasan kita, pasti ada permainan yang dilakukan oleh bapaknya tersebut untuk memenangkan anaknya ini!”Aku tidak mau suudzon, tetapi aku bisa mengamini pernyataan kawanku ini. Semoga prasangka ini tidak benar adanya.
***
Akhirnya, setelah berjam-berjam perayaan ini berlangsung. Kini, Pukul 17.30 waktu Indonesia bagian mana saja, akhirnya berakhir juga. Timbul perasaan lega di dadaku dan perasaan senang sebab akan mendapatkan honor yang tidak seberapa itu. Aku duduk dengan posisi jongkok di kedai kopi di samping gedung kepanitiaan perayaan kebudayaan provinsi R. Penjaga kantin bertanya kepadaku perihal keributan tadi, ternyata dia mendengarkan apa yang terjadi tadi. Aku langsung menghela napas, sebab aku sudah berusaha mengenyahkan itu dari pikiranku. Namun, apa daya, tak mungkin pula tidak kujelaskan padanya apa yang sudah terjadi. Aku menjelaskan selengkap-lengkapnya padanya.
Saatku bercerita, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja tak lupa berucap berkali-kali. Ia begitu tidak menyangka Alex Kaliang seperti itu, sebab ia mengaku pernah menyaksikan Alex Kaliang waktu kecil dahulu. Ia sangat-sangat tidak menyangka. Tampak ada garis kesedihan di wajahnya yang keriput. Aku jadi tidak tega untuk melanjutkan ceritaku.
“Kau tak curiga padanya?” Aku tidak tahu pasti kemana arah pertanyaan kawanku ini. “Ke Alex Kaliang?” Kawanku tampak mengela nafas sebab siapa lagi yang ia maksudkan. Sedari awal aku sudah berada di titik di atas rasa ‘kecurigaan’ itu sendiri, yaitu ‘kebenaran’. Jika kumengatakannya kepada publik nantinya bakalan runyam. Aku akan digelari dengan sebutan yang di belakangnya terdapat phobic. Aku akan dibenci oleh sekelompok masyarakat dengan pemikiran yang terbuka. Ah! Aku takut akan sesuatu yang tak diinginkan terjadi di provinsi kita ini. Di kota ini terlalu banyak distopia. Aku berikhtiar saja kini, Bung! Aku serahkan segalanya kepada yang maha kuasa, aku sudah pasrah. Kaum Alex Kaliang ini bebal sangat! Dia tidak akan mendengarkan nasihat-nasihat dari orang lain!
Handphoneku berbunyi. Aku mengangkatnya segera, betapa bahagianya aku sebab yang menelepon adalah bapak Alex Kaliang. Pasti ia ingin membicarakan perihal honor yang kutunggu-tunggu itu yang akan menyambung hidupku untuk satu bulan ke depan. Setelah haloku dijawab olehnya, kerut dahiku berlapis-lapis tak seperti biasanya. Aku tidak menyangka hal ini berlaku padaku. Apakah ini pantas kusampaikan kepada pembaca? Sebentar! Dia masih berusaha membujukku. Apa yang sebenarnya ada di otaknya? Aku sudah tidak habis pikir lagi. Ya, namanya juga orang tua, pastinya ingin yang terbaik untuk anaknya bukan? Dia masih berusaha membujukku. Seluruh bagian tubuhku menggigil. Tubuhku lemas dan kepalaku sudah menyentuh meja.
Kenapa?! Kenapa harus aku yang menjadi yang terbaik untuk anaknya?! Dia sudah gila! Apa yang harus kukatakan kepada kalian? Apa ini semuanya?! Ketika tawaran ini tidak kuiyakan, dia tidak akan membayarkan honorku sepersen pun. Ini tidak adil! Kemana harus kumengadu?! Aku kembali bertanya, kenapa harus aku? Kenapa? Dia selalu menjawab “Karena kau yang terbaik untuk anakku! Aku tidak ingin dia menangis tersedu-sedu seperti tadi, mood dia rusak karena ulah temanmu! Tetapi kamu mencoba untuk menenangkannya. Anakku tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh cowok-cowok sekaum dengannya, termasuk diriku. Aku ingin anak bujangku itu mendapatkan jodoh secepatnya, yaitu kamu!”
Aku tanpa ragu menghentikan percakapan kami. Aku tidak pernah selemas ini di dalam hidupku! Kali ini, aku benar-benar tidak berdaya. Tulangku seakan dipresto hingga lembut. Aku diminta minum terlebih dahulu oleh kawanku. Aku meneguk segelas teh hangat yang sudah dingin. Aku masih berusaha untuk menegakkan kepalaku lagi. Aku mencoba bercerita perlahan-lahan kepada kawanku. Kawanku yang suka berprasangka ini berkata “Itu kan?” Sungguh pertanyaan singkat ini buatku bertanya, “Kenapa dia bisa tahu?!” Tetapi ya sudahlah, aku mencoba menjelaskannya sepanjang tali beruk kepadanya. Aku benar-benar tidak tahu lagi.
***
Kini kenapa ada Alex Kaliang di sini? Dia berjalan ke arahku. Dia tersenyum. Dia sudah menggunakan pakaian adat R (Biasanya pakaian ini digunakan ketika menikah). Dengan siapa dia akan menikah? Denganku? Aku tidak bisa membayangkannya. Semoga dengan seorang wanita. Tetapi, Kenapa begitu cepat? Atau ada kegiatan lagi setelah ini? Pertanyaan ini berlanjut lada pernyataan bahwa aku tidak tahu lagi apa yang akan kukeluarkan dari perutku saat tanganku kini menjabat tangan penghulu. Aku menoleh ke sisi kiriku, pacar yang begitu kusayangi duduk sambil memegang honorku tadi. Dia menoleh kepadaku sambil berkata “SAH!” dengan nada yang kencang.
Pantek!
Alfarizi Andrianaldi





