BⒶNDAKALI

Bebas dan Membebaskan: Pengantar Tentang Cinta yang Egois

Halo orang sesat! Ini mungkin kali ke-3, ke-2, atau malah pertama kalinya kau membaca rubrik Bandakali yang nggak jelas ini. Di Bandakali #1 dan #2 aku mungkin terdengar (terbaca) penuh dengan kemarahan, cemoohan, dan sok jagoan.

Begitulah Bandakali. Ntah kenapa pengurus web seburukapasih.com yang nekad ini mau menyediakan rubik khusus untukku. Tidak tanggung-tanggung, aku pula yang diminta menamai rubrik ini! Tidakkah mereka sadar sudah membesarkan api egoku?

Sama seperti Bandakali yang dikenal oleh orang-orang Padang sebagai saluran irigasi, aku bisa bebas kencing di sini. Buang air seni, lalu mengaku seniman.

Tapi aku tidak bisa marah-marah dan penuh letupan terus. Bisa impoten aku nanti. Toh, Bandakali bukan hanya tempat menampung luapan air kan? Aku benci menyebutnya, tapi perlu diakui kalau Bandakali juga jadi tempat buang sampah!

Namun ada berapa banyak di antara kalian yang pernah berduaan dengan pacar atau laki-laki/perempuan idaman menyusuri jalanan di samping Bandakali? Walau keruh, tapi tetap romantis bukan?

Di sini, kita akan bercerita tentang cinta yang egois. Bagaimana orang egois seperti aku dan kau memandang cinta romantis. Biar kau tidak galau terus.

Siapa Orang Egois yang Aku Maksud?

Kau mungkin pernah mengira orang egois adalah orang-orang yang tidak asyik dan tidak layak jadi teman. Namun, bukankah kita semua memiliki ego?

Mari kita sekarang bersepakat, bahwa ‘orang egois’ dalam tulisan ini adalah semua orang yang punya ego dan mengakuinya! Apakah kau punya cita-cita, hobi, minat, atau pandangan hidup yang murni muncul dari dirimu sendiri dan bukan karena paksaan orang lain? Kurang lebih seperti itulah ego yang aku maksud. Mari berjabat tangan, selamat datang di perkumpulan orang egois!

Di perkumpulan egois ini, tidak ada kewajiban. Bahkan sebaiknya kau tidak menaruh harapan pada siapa pun, termasuk padaku! Lantas kenapa kita berkumpul? Semata karena kita sadar bahwa kita sama-sama egois dan unik.

Mungkin dengan berkumpul, aku bisa mendukungmu menjadi dirimu sendiri dan sebaliknya. Pergilah kapan pun kau mau dan tidak perlu merasa berutang padaku.

Yang pasti, karena kita sadar dan mengakui egoisme masing-masing, maka tidak boleh ada yang jadi penindas atau tertindas! Urus diri kalian masing-masing, dan jangan usik yang lain!

Sebagai orang egois, kau bebas untuk menaruh dan menunjukkan rasa hormat, suka, dan sayang kepada siapa pun yang mau dan kau anggap pantas.

Walau orang egois terkesan bersikap seenaknya dan kurang ajar, namun sikap yang kita tunjukkan cenderung murni. Bukan muncul karena kewajiban dan harapan. Dalam sikapnya terhadap orang lain, mereka benar-benar menunjukkan diri sendiri.

“Hanya ketika seseorang benar-benar terbebas dari hantu-hantu seperti kewajiban dan harapan, dia dapat benar-benar memiliki dirinya sendiri,” begitu kata Max Stirner, pemikir egois abad ke-19 asal Jerman.

Apakah Orang Egois Percaya Cinta?

Max Stirner si egois itu pernah menulis, seseorang yang mencintai orang lain lebih kaya daripada seseorang yang tidak mencintai siapa pun. Dengan cinta, kita ikut senang melihat kegembiraan orang lain. Walau efek samping dari mencintai adalah ikut merasakan penderitaan orang terkasih, mencintai bukanlah sebuah kerugian. Bukankah pada dasarnya hidup ini lekat dengan penderitaan?

Dalam tulisan ini, aku tidak akan bicara banyak soal cinta universal: cinta yang menyeluruh terhadap sesama manusia. Aku yakin kalian sudah hampir khatam memahami itu, dan aku jelas bukan nabi yang harus terus berkhotbah tentang persaudaraan manusia.

Sekarang, aku ingin mengajak kau mengenang lagi jenis cinta yang paling berisiko dan paling bisa membuat kau patah hati: cintamu kepada satu sosok manusia itu, yang kau sepenuhnya ingin bersatu secara intim dan mesra. Hanya kau dan dia. Cinta yang eksklusif. Ada yang menyebutnya sebagai cinta erotis atau cinta romantis.

Mengapa aku sebut jenis cinta ini adalah yang paling berisiko? Karena ia bisa menipu dengan harapan dan ilusi yang ia munculkan. Ia juga mengobarkan hasrat untuk memiliki.

Pernahkah kau ingin tampil sebaik, sekeren, dan semenarik mungkin semata untuk memikat pujaan hatimu? Apakah upaya yang kau lakukan itu adalah murni dari dirimu sendiri? Atau kau telah dihantui oleh harapan untuk bisa menguasai perhatian seseorang yang kau suka itu? Dan baru menyadari kekonyolanmu setelah merasakan penolakan? Bahkan kepalsuanmu sampai membuatnya risih? Sebagai sesama orang egois, mari kita bersumpah untuk tidak bodoh lagi!

Kita adalah orang unik, banyak yang menyebut kita aneh, persetan. Rasa cinta pada orang lain bukanlah alasan untuk menghilangkan keunikan diri sendiri.

Pujalah dia dengan caramu! Tebarkan rasa itu. Beri ia lagu, bunga, puisi, buku, sembako, atau apa pun yang kau mau berikan. Jangan bertindak karena mengharapkan balasan, sebab nanti kau akan banyak kecewa. Rayakan keunikan dan ‘kegilaanmu’ dalam mencintainya.

Persetan dengan ikatan dan imbalan, dirimu sendiri sudah cukup sebab kau adalah manusia utuh! Max Stirner bahkan berkata lebih ekstrim lagi, “bagiku tidak ada yang lebih selain diriku sendiri”. Mencintainya adalah bagian dari cintamu kepada diri sendiri.

“Terlepas dari keinginan Stirner untuk mengorbankan nyawanya, kesejahteraan, kebebasan, dan banyak hal lainnya untuk kekasihnya, dia bersikeras bahwa dia tidak mengorbankan dirinya sendiri. Dia rela mengorbankan segalanya kecuali ‘kepemilikan’-nya- yaitu prinsip. Prinsip pilihannya sendiri yang dengan itu dia mendefinisikan dirinya sendiri,” dikutip dari buku Max Stirner dan Cinta yang Egois (Skye Clearly dkk, 2021).

Tentang Kebebasan dan Hubungan

Berikut adalah kutipan tulisanku untuk seorang perempuan:

“Pertama sekali, perkenalan denganmu bukanlah sesuau yang aku minta. Aku tidak memintanya kepada Tuhan atau alam. Ironisnya, aku justru orang yang gemar memamerkan dan mengumbar apa yang aku sebut sebagai ‘bebas’. Bukankah itu konyol? Kalimatku sebelum ini justru membantah itu semua hahaha. Bahwa aku tidak sepenuhnya bebas. Seorang kawan anarkis pernah berkata, kita hanya ‘bebas untuk’, bukan ‘bebas dari’.”

Aku tidak bebas dari kejadian yang aku alami, sebab aku adalah bagian dari rangkaian kejadian itu. Sehingga aku pun tidak lepas dari pengaruhnya, salah satunya adalah rasa cinta yang tumbuh. Dan aku tentunya bebas untuk bersikap terhadap perasaan itu.

Lantas, bagaimana orang egois bersikap terhadap ketertarikan romantis semacam itu?
Sementara, ia seolah mengantarkan kebingungan untuk memilih antara ikatan dengan orang terkasih atau kebebasan yang mutlak.

Ada berbagai kemungkinan untuk seorang egois. Ia bisa saja jadi gemar selingkuh atau justru setia dengan pernikahannya seumur hidup. Apa pun pilihannya, ia memutuskan dengan kesadaran penuh atas kehendak bebas.

Kau bisa baca kutipan-kutipan dari buku “Max Stirner dan Cinta yang Egois”:

“Cinta yang egois adalah pengakuan timbal balik dari dua kekuatan unik yang saling menikmati kebersamaan satu sama lain selama mereka berdua mendapatkan keuntungan darinya.”

“Seorang kekasih dapat mencapai segala sesuatu ketika dia bersama dengan yang lain daripada yang bisa dilakukannya ketika dia sendirian.”

“Cinta romantis konsisten dengan filosofi Stirner jika dipahami sebagai dua individu yang melakukan apa yang paling mereka sukai dan secara kebetulan menemukan minat dan ketertarikan di antara satu sama lain.”

“Stirner mencintai dirinya sendiri dan mencintai orang lain untuk dirinya sendiri, dan terkadang hal itu sejalan dengan orang lain yang juga tertarik padanya.”

Daffa Benny, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik, Universitas Andalas.

Avatar

admin

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

BⒶNDAKALI

Coliy Coret Tembok di Hari Buruh: Buat Apa?

“Ini tulisan untuk siapa?” kata Genta, seorang desainer grafis dengan rambut bergelombang panjang seleher. “Ya untuk awak sendiri. Untuk kawan-kawan
BⒶNDAKALI

“Kita Tidak Butuh Polisi,” Aku, Anak Padang

Aku adalah generasi anak muda Minangkabau yang kebingungan. Orang-orang terkenal sering membanggakan tokoh-tokoh Sumatera Barat, macam Buya Hamka, Agus Salim,