Ulasan

Menonton dari Panggung

Saya melesat menuju arah dataran tinggi di Padang, setelah jok motor baru saya selesai dipasang, menunggu selama dua jam, dan menyerahkan selembar uang Rp 50.000 kepada ‘tukang ganti jok’ (saya tidak tahu menamai profesi yang satu ini dengan apa. Montir? Tapi dia hanya menangani masalah jok, bukan mesin motor). “Ah! Semoga pertunjukan nanti menyegarkan otakku setelah penantian suntuk ini,” benak saya.

Malam itu, sebuah panggung telah disiapkan beberapa hari sebelumnya untuk sepuluh pementasan drama berbahasa Inggris.

“Kamu harus lihat! Walaupun tidak banyak kosa kata Bahasa Inggris yang kamu ketahui, setidaknya kamu tahu bahwa mereka ada,”

ujar saya kepada Alfarizi yang langsung dibalas dengan jawaban, “Gass!”

Tidak selama menunggu pemasangan jok motor, kami sudah sampai di lokasi pementasan, SMKN 7, Lubuk Begalung, Padang. Saya menyarankan kawan Melayu tadi untuk mengaku sebagai kawan angkatan saya di jurusan, karena dia mengaku canggung untuk menonton pementasan yang dipentaskan dan didominasi penonton dari Jurusan Sastra Inggris Unand. Padahal, acara itu boleh ditonton oleh siapa saja kok.

Penerima tamu mempersilakan kami mengisi buku tamu, sembari menjelaskan aturan-aturan selama pertunjukan: dilarang memotret menggunakan blitz, dilarang berisik, dilarang meninggalkan sampah, dan dilarang merokok selama pertunjukan. Baiklah, aturan yang cukup dimengerti, walaupun yang terakhir lumayan berat sembari menikmati pertunjukan seni.

Ruangan minim cahaya, penonton yang sesekali berbisik membicarakan pertunjukan, dan para aktor/aktris fokus bermain peran sembari terus mengingat naskah. Itulah hal pertama yang saya temukan ketika mendaratkan pantat ke kursi penonton yang serupa tangga. Di seberang panggung, penata cahaya mengganti cahaya ke merah, lalu biru, lalu merah, dan begitu seterusnya. Dan, saya paling patuh menaati ‘dilarang berisik’, sebab butuh konsentrasi tinggi memahami dialog tanpa pelantang dari seberang panggung.

Pementasan drama berbahasa Inggris tersebut merupakan bentuk ujian akhir dari para mahasiswa Sastra Inggris Universitas Andalas. Mereka saling bergantian bermain peran selama 3 hari (6-8 Juli 2024) dari pukul 17.00 WIB-larut malam. Terdiri dari 10 kelompok drama dengan judul pertunjukan yang berbeda. Saya menangkap, hanya satu drama bertema komedi dari sembilan drama horor/thriller lainnya. Generasi Z memang lagi murung-murungnya. Lepas dari opini pribadi, saya mengakui memang genre horor/thriller lagi laris-larisnya di industri perfilman Indonesia yang konsumennya dominan kalangan para aktor/aktris di depan mata saya.

Satu pementasan yang menyita mata saya adalah “DNA” yang dimainkan oleh The Charmolypi. Tentang sekelompok remaja mendapati diri mereka berada dalam situasi menegangkan. Salah satu temannya–Alice–terbunuh. Mereka bersepakat untuk berbohong pada Kepala Sekolah demi menutupi kesalahan. Fat Mailman (Tukang Pos Gemuk) difitnah sebagai pelaku. Namun, tak ada tahi yang tak bau, polisi menemukan DNA salah seorang dari kelompok remaja itu di sweater Alice.

Benar saja, The Charmolypi mendapat penghargaan best performance pada puncak acara (hari terakhir). Pemainan cahaya, kelihaian para pemain dalam membangun suasana konflik, hingga penataan suara sangat mereka perhatikan. Kelompok pertunjukan yang mengusung nilai persahabatan itu turut meraup penghargaan best actress untuk Leah (diperankan: Hanifah). Tokoh protagonis cerewet, problematik, tapi solutif di tengah ketegangan masalah.

Namun, bukan masalah siapa yang terbaik-siapa yang terburuk. Pada malam terakir tersebut seluruh pemain merayakan penampilannya. Saya seperti melihat asap pekat yang perlahan sirna di atas kepala mereka, beban tugas akhir terbayarkan setelah 4 bulan latihan.

Pertunjukan ini ada setiap pertengahan tahun sejak belasan tahun silam. Rafi–salah satu aktor merangkap wakil ketua panitia–mengaku mendapat banyak dampak dari drama.

“Dampak negatif tidak ada sama sekali, Bang. Malahan, lidah saya lupa Bahasa Indonesia sekarang. Dari latihan sampai pementasan, lidah saya banyak berbahasa Inggris,” papar pria berkacamata tersebut. Saya percaya mahasiswa lain juga merasakan yang sama.

Selebihnya obrolan kami sepakat bahwa pementasan tersebut tidak harus begitu-begitu saja setiap tahunnya. Ada potensi besar yang kudu diambil. Penampilan mereka tidak hanya ‘makanan’ satu kaum tertentu. Namun, siapa pun bisa menikmati.

“Apakah semua orang bisa memahami drama berbahasa inggris?”

Saya pikir adalah egois jika hanya mahasiswa Jurusan Sastra Inggris yang paling paham & fasih berbahasa Inggris. Toh, ada ribuan mahasiswa Hukum, Politik, Peternakan, Teknik yang juga (lebih) jago seperti mereka. Maka, pertunjukan ini seharusnya juga ditonton oleh masyarakat luas.

Kenyataannya yang saya temui di luar panggung, belum ada yang tahu bahwa ada pementasan drama berbahasa Inggris rutin setiap tahun di Kota Padang. Wajar saja, penyebabnya adalah info tidak tersebar luas di media sosial.

“Kami kewalahan. Pemeran, iya. Penampil, juga iya. Ya, semoga tahun berikutnya dua peran itu bisa dipisahkan.” Saya menangkap kerut lelah di kening Rafi. Semoga harapan sekaligus solusi tersebut bisa membuka peluang penikmat lebih luas ke depannya. Acara ini harus lebih terbuka dengan diadakan di tengah-tengah masyarakat, bahkan dengan pengonsepan festival, begitu yang hanya bisa saya imbuh dari kalimat Rafi.

Saya juga kerap berbincang dengan Pak Donny Eros, salah satu dosen pengampu mata kuliah drama tersebut. Pernah sekali dia menyakan pendapat saya, bagaimana jika pementasan drama Sastra Ingris diadakan di Fabriek Bloc (bangunan bekas pabrik yang kini disulap menjadi perkumpulan coffee shop tempat berkumpulnya skena kawula muda di Padang)?

“Menarik. Tapi, pasti mahasiswa Bapak mengeluh soal biaya sewa yang sangat mahal. Itu ‘kan lokasi bisnis,” jawab saya di sela bimbingan skripsi dengan Beliau. Dan, beberapa bulan setelah percakapan tersebut, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya terbaik di Sumatra Barat menyewa (lagi) tempat (yang sama) untuk pertunjukan.

Padang, sejak menjadi pusat perdagangan rempah kaya akan budaya yang tidak cukup dibahas satu malam sepatutnya bangga memiliki banyak pelaku kesenian yang terus tanpa menyerah menghidangkan dan melestarikan karya, gagasan, dan pertunjukan seni. Sekarang, sudah dibangun megah sebuah bangunan yang digadang-gadangkan menjadi titik kegiatan kreatif anak mudanya, namanya Padang Youth Center. Buktinya, Saudara bisa lihat sudah ada berapa acara dinas yang berlangsung di sana. Sebagai kota terbesar di pantai barat Pulau Sumatra, rasanya Padang tidak akan kehabisan tempat pertunjukan dan penikmat seni (‘kan?).*

Foto: Farhan Rozadi

Johan Arda, penulis “Ritual Malam Minggu”. Emerging Writer di Balige Writers Festival 2023, Toba, Sumatra Utara.

Avatar

admin

About Author

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You may also like

Ulasan

Pekikan Kaum Muda Modernis

ilustrasi: Alfarizi Andrianaldi ; Catatan Kumcer Ritual Malam Minggu Johan Arda Padang–Ponsel saya melengking tatakala sebuah e-mail masuk, sebuah naskah
Ulasan

Sinemaghhh dengan 1000% Kebahagiaan: Sebuah bacotan singkat Perihal Film Bootlegging My Way Into Hell

  • Desember 24, 2024
Aku terdiam setelah film ini selesai, begitu pula teman musisiku, Gian. Sontak kami saling bertanya, “Film apa ini?!” Sambil tertawa