Puisi Terjemahan: Lindu Ariansyah
Kami Terpanggang Tinggal Rangka
dari Fuck Your Lecture on Craft, My People Are Dying karya Noor Hindi
Para zionis sibuk mengarang bunga-bunga.
Tetapi, biar kuceritakan padamu tentang putra-putri kami
yang melawan tank-tank Israel nan degil
hanya bersenjatakan ketapel-ketapel mungil dan sejumput kerikil.
Serdadu-serdadu kecil itu lari laju, lalu layu
bagai bebunga aster terpanggang mesiu.
Aku ingin seperti para penyair yang mudah mengindahkan cahya rembulan.
Tetapi, orang-orang Palestina tak pernah tahu apa itu rembulan
selain senyap cekam lapas-rutan—kawan sekandung zaman.
Oh, betapa cantik dan menawan, itu rembulan
dan kembang-kembang bermekar permai tak berlawan.
Kupetik satu untuk ayahanda yang t’lah tiada—siasat pelipur lara.
Terkenang, ia simak selalu Al Jazeera
khusyuk-masyuk tiada terkantuk.
(KuharapJessica berhenti mengirim pesan Selamat Ramadan)
Aku tahu aku seorang Amerika karena
saat kumasuki suatu ruang,
ada yang binasa tinggal rangka.
Metafora tentang maut hanya untuk para penyair
yang percaya bahwa hantu-hantu mampu mendengar desir
—lunta-lunta nestapa takdir.
Dan bila ku mati anti,
‘kan kugentayangi kau tiada henti
Kelak, ‘kan kutulis cerita tentang bunga-bunga
—sebagaimana kami (pernah) memilikinya.
Mati Terhormat
dari We Deserve a Better Death karya Mosab Abu Toha
Kami berhak mati terhormat.
Lihatlah! Tubuh kami patah, cacat, dan lebam
disulam peluru dan rudal meriam!
Asal-asalan mereka melafal nama kami
di radio dan televisi.
Potret-potret kami
di dinding-dinding rumah kami
memudar pucat pasi.
Nisan-nisan kami pun jadi tak bernama,
sirna tersapu tai burung gereja dan kadal sahara.
Tiada sanak famili menziarahi kami
Pepohon yang meneduhi kami
tersiram sunyi
dan mentari
menyengati tiada bertepi
—tubuh-tubuh busuk kami.
Kala Fajar Menyingsing
dari Dawn karya Rawan Hussin
Fajar menyingsing di kepala kami
Terpangkas-regas rapi sesuai patri
Kaki-kaki bocah menadah awang-gemawang.
Sementara waktu membeku diri di sudut tak bertepi
menutup mata, tak ingin peduli.
Seperti kekanak
dengan kata
sirna meluak
dari balik kelopak.
Langit-langit pun runtuh
dihujam hujan batu meluruh
dan dari balik puing-puing
kupetik memori pengunci:
panorama luka di muka diri.
Lalu sendiri menua malam ini,
menenun waktu, merangkai sembilu,
melahap aneka teror yang menghilir
ke putra-putri kami punya bibir.
Tetapi, tanya pemungkas lantas tersemat:
siapa ‘kan sudi melumat
bibir lapuk kami nan berkarat?
Penerjemah: Lindu Ariansyah.
Pemasbuk andal. Mari berteman: medium.com/@linduariansyah





