Pekikan Kaum Muda Modernis
; Catatan Kumcer Ritual Malam Minggu Johan Arda
Padang–Ponsel saya melengking tatakala sebuah e-mail masuk, sebuah naskah kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis muda kelahiran Sumatera Barat berhasil membuat saya mengalihkan semua pekerjaan lain. Beberapa pekan berikutnya, saya sudah asyik berdikari dengan cerpen-cerpen Johan Arda yang saya rasa semuanya berangkat dari dirinya sendiri; tentang kegagalan cinta, carut-marut kota, idealis kaum feminis bodong, dan perjuangan cerpenis lokal yang tersaruk-saruk mencari potongan ceritanya yang terbit di koran. Semua itu demikian menggelitik saya dan ingin sekali agar kumcer itu segera terbit dan dibicarakan.
Saya tentu saja cukup mengenal penulis Johan Arda dan beberapa kali membaca tulisannya yang terbit di berbagai media, kedekatan emosional tersebut membuat saya ingin sekali memberikan khotbah panjang tentang kumcernya yang berjudul Ritual Malam Minggu, namun sepertinya itu tidak akan terjadi karena kapasitas otak saya juga kurang memadai, mungkin yang akan saya lakukan hanya menyoroti beberapa bagian dari cerpennya yang patut untuk ditelaah kembali dan beberapa yang patut diberikan acungan jempol.
Secara keseluruhan, tema-tema dalam cerpen tersebut cukup menarik karena melibas banyak sekali kalangan; mahasiswa, dosen, pemerintah, PSK, kaum feminis abal-abal, redaktur keparat, bahkan sampai kisah cinta pilu yang kandas. Semua itu disusun bagai mozaik dengan beragam warna, berpendar dan saling berpijar dengan aroma dan rasanya masing-masing, tulisan semacam ini membuat kaya pembaca, menjadikan kumcer tersebut pilihan yang cukup bagus untuk menemani waktu senggang di sela minum kopi di sore hari. Beberapa lainnya bahkan terkesan ironi dan keras, memangnya siapa Johan Arda yang dapat dengan lantang mengobrak-abrik pemerintah (jangan tanya pemerintah yang mana?) yang lintang-pukang ini? Yah, akhirnya saya tahu, semua orang Sumbar memang telah terlahir egaliter dan bebas, pantas saja PRRI begitu menyala di sini, dan Soekarno hanya viral sedikit dibanding Tan Malaka yang jauh lebih encer otaknya.

Tema yang Kaya dan Beragam
Seperti biasanya dalam tulisan-tulisan saya yang lain, akan saya sebutkan kelebihan-kelebihan buku ini secara jujur dan baru kemudian beberapa catatan dari pembacaan saya yang naif ini. Tulisan Johan Arda jelas-jelas sudah melewati seleksi alam dunia perkoranan, itu terbukti dengan cerpen-cerpennya yang sudah terbit di banyak media dan dicantumkan di bagian akhir buku (Riwatar Publikasi; 163) Namun, perlu dicatat bahwa dengan demikian, kumcer ini hanya akan menjadi glosarium semata karena secara keseluruhan tulisan tersebut sudah dimuat di koran-koran lokal maupun nasional. “Tidak ada yang mempermasalahkan ini, toh penulis lain juga sudah melakukannya puluhan tahun lalu,” kata sebagian diri saya.
Dengan tema yang beragam, Johan Arda berusaha untuk memberikan pengait antara satu cerpen dengan cerpen lainnya. Hal itu akan terasa dengan gaya kepenulisan yang konstan dan sesekali diselingi kalimat-kalimat satir, seluruh garapan tersebut demikian padu dan konkret, meski tema-tema pertemanan dan cinta mendominasi, namun tema sosial atau humanity tetap ditonjolkan di bagian-bagian lain, ini menjadikan cerita kian hidup dengan mencoba mengeksplorasi banyak hal dalam beberapa cerita. Tema-tema seperti harimau (Anak Gadis Harimau; 1, Harimau Buntung; 21, Adakah Macan di Perut Erka; 43) tampak menempati peringkat awal-awal cerita, namun dengan gaya penceritaan yang berbeda, sebuah trik yang bagus jika kita sedang membicarakan kumpulan cerpen.
Jika saya mencoba mencari perbandingan, barangkali di cerpen Paijah Paijo-lah saya menemukan kerumitan yang demikian komplit dengan narasi utuh serta karakter yang dibangun serius, saya seolah tengah membaca tulisa-tulisan Teguh Winarso (meski ini hanya menurut saya saja) dan puas sejak kalimat pertama hingga terakhir. Pemilihan nama, karekter, serta ending yang menarik dan menghantam-hantam membuat saya ingin sekali meletakkan cerpen ini menjadi yang pertama, namun kembali saya urungkan karena Paijah Paijo akan menjadi kartu AS dalam kumcer ini, dalam banyak perbincangan, saya sinyalir tema ini menarik dewasa ini. Saya katakan ini adalah sebuah pekikan kaum modernis yang mulai terjepit, sebuah pemberontakan dari kaum feminis yang membuat patriarti tak berkutik dan mati kutu. Berkelas sekali kalimat saya, bukan? Tapi jangan percaya, hanya bermodalkan google, zaman sekarang Anda sudah bisa dianggap da’i kondang.
Tanggal 3 Maret kemarin, sangkaan saya tepat sasaran, Paijah Paijo menjadi perbincangan dalam launching dan diskusi buku tersebut di Pustaka Steva, Padang, dengan Anjali Sabna dan Fadli Pakiah yang menjadi pemateri. Passs! Perbincangan tersebut tembus hingga larut malam, hingga mata saya benar-benar nyaris terkatup sementara perdebatan belum usai. Selamat, selamat.
Narasi Lemah Menjadikan Cerita Minim Ekplorasi, Sebaliknya
Orang-orang Mongol yang tak terkalahkan, selalu mempelajari musuhnya selama berbulan-bulan, mereka bahkan meninjau medan tempur dan melakukan observasi rencana apa yang harus dilakukan jika pertempuran tak menguntungkan mereka. Orang-orang Apache, dalam menaklukkan bison, kuda liar yang mereka sebut mustang, dan beruang grizzly pun setali tiga uang, ini penting dilakukan agar semua usaha yang mereka lakukan tepat sasaran dan mendapatkan seluruh yang diinginkan. Terbukti, orang-orang Mongol selalu memang dalam perang, dan orang-orang Apache sangat lihai di bidangnya.
Nah, saya rasa kita sepakat dan berhak belajar dari dua contoh di atas, seorang penulis harus betul-betul memahami apa yang sedang dan akan ia tulis, tidak bisa tidak. Karena cerita yang mengawang-awang, tidak runut, tidak diberikan pondasi riset yang kokoh, dengan karakter absurd dan tindak-tanduk yang nyaris sama, adalah kuburan yang digali untuk diri sendiri. Dalam kumcer ini, saya menemukan beberapa cerpen yang digarap dengan malas, terburu-buru, dan terkesan hanya sebagai penebal buku saja, padahal jika dipoles dengan serius dapat menjadi lebih baik lagi (ini adalah catatan untuk saya pribadi sebagai editor) namun di beberapa yang lain, saya temukan juga cerpen yang sudah lemah sejak dalam idenya, yang seharusnya tidak saya masukkan ke dalam kumcer ini. Tapi apa boleh buat, saya terlalu lembek pada diri sendiri untuk memotongnya.
Oke, satu catatan untuk narasi-narasi yang masih mentah dan eksplorasi yang belum maksimal dan juga saya sendiri. Amputasi! Saya melihat ini dengan jelas dan terang dalam tulisan-tulisan Johan Arda, penulis kelihatan kerap membiarkan narasi bagus yang tidak ada hubungannya dengan badan cerita, alhasil, cerita tak lagi menjadi padu dan terkesan melebar. Tindakan untuk tidak menghapus beberapa adegan yang tidak penting (padahal sangat bagus) malah melemahkan cerita yang sudah dibangun. Di beberapa cerpen, seperti Yang Berputar di Mata Erka, ekplorasi begitu dingin dan minim, padahal saya sangat yakin dapat dipoles lebih baik lagi dengan kian menonjolkan tokoh utama dalam cerita tersebut.
Terakhir, saya akan tetap kekeuh menyebut kumcer ini sebagai pekikan kaum muda modernis, karena dewasa ini kungkungan kota dan kemajuan teknologi seakan memenjarakan akal sehat dan melegalkan tindakan-tindakan yang dianggap tabu dan bajingan. Sebuah kumcer tentu saja bukan pemberontakan bersenjata, namun sebuah pemberontakan akal sehat yang ternodai oleh carut-marut kota dan tindakan kaum-kaum borjouis keparat. Alhasil, seperti yang Marx sampaikan, ketimpangan akan kian besar dan ucapkan kata bajingan terhadap kaum-kaum elit yang hanya memperkaya diri, saya rasa itulah yang ingin disoraki Johan Arda dalam kumcernya, Ritual Malam Minggu.
Hasbunallah Haris, novelis dari Solok Selatan, Sumbar. Novel terbarunya “Mandulang Cinto” (2023), merupakan novel berbahasa Minang.





